Rabu, 19 November 2008

wisata kuliner




BAKMI SHIBISHU - Ketika Bakmi Bisu Membuat Anda Kehilangan Kata
Jika anda adalah salah satu penggemar berat bakmi, ketika sedang berada di Yogyakarta cobalah untuk mampir mengunjungi warung makan bakmi Shibishu yang terletak di Jalan Raya Bantul No.106. Tempat ini dapat ditempuh sekitar lima menit dari Malioboro, tepatnya 500 meter selatan Pojok Beteng Kulon. Jangan terkecoh oleh namanya yang agak berbau Jepang, bakmi ini dimiliki oleh orang Yogya asli dan sudah beroperasi sejak 25 tahun lalu.Warung makan ini adalah yang paling banyak dikunjungi dibandingkan warung-warung makan lain yang ada di sekitarnya.
Selain keramaiannya tersebut pada awalnya saya cukup bingung dengan apa yang akan saya temui di warung makan ini. Tempat ini terkenal dengan nama 'bakmi bisu'. Ada beberapa pikiran iseng saya berkenaan dengan istilah tersebut. Pertama, bakmi tersebut saking enaknya sehingga ketika mencobanya, kita akan membisu alias tidak bisa berkata-kata. Pikiran yang kedua, yang menjajakan bakmi ini alias si penjual adalah orang yang tuna wicara atau bisu. Saat memesan satu porsi bakmi goreng kepada seorang wanita paruh baya yang sedang meracik bumbu saya mengira tebakan iseng saya yang kedua sudah gugur, karena si ibu tersebut ternyata bisa bicara. Tapi kemudian pada akhirnya saya mengetahui satu dari dua tebakan saya ada yang benar, begini cerita lengkapnya.
Selain memesan bakmi goreng, saya juga memesan teh manis hangat sebagai pendamping makan. Saat menunggu pesanan tiba, perlahan saya mulai mengerti salah satu alasan kenapa tempat ini terkenal dengan nama bakmi bisu. Ternyata pelayan yang mendistribusikan pesanan ke para pelanggan adalah seorang wanita tuna wicara (bisu). Ada satu orang lagi yang membantu ibu peracik dan pemasak bakmi yang sepanjang pengamatan saya juga 'membisu' atau tidak bicara sepanjang melakukan pekerjaannya sebagai pengipas bara api di anglo.
Cukup lama pesanan saya tiba. Bisa dimaklumi karena warung ini hanya menggunakan sebuah anglo berbahan bakar arang untuk memasak semua pesanan pelanggannya. Sambil menunggu pesanan bakmi, suguhan yang datang terlebih dahulu adalah teh manis hangat. Cukup berbeda dari tempat lain yang menyajikan teh hanya dengan menggunakan gelas. Di sini juga diberi tambahan sebuah teko kecil untuk jog jika air teh yang ada di gelas sudah habis. Selain berbeda dalam penyajian, teh ini juga berbeda dalam hal rasa jika dibandingkan dengan teh di tempat lain. Sruputan pertama ketika mencecap teh ini meninggalkan sensasi tersendiri. Jika boleh meminjam tag line sebuah produk teh, ini adalah sensasi wasgitel (wangi, sepet, legi, dan kentel). Aroma yang keluar dari panasnya kopi menimbulkan wangi aroma teh yang khas. Warna teh yang coklat kehitaman menunjukkan kekentalan dan rasa sepet yang membekas di ujung lidah. Kemudian dilengkapi dengan manis yang elegan dari gula batu yang dicelupkan ke dalam teh. Sudah lama saya tidak merasakan teh yang seperti ini. Terakhir, saya mencicipi teh yang enak beberapa tahun yang lalu ketika melakukan penelitian sosial budaya di daerah Tegal Utara.
Setelah hampir 20 menit menunggu akhirnya pesanan bakmi goreng saya diantar oleh si wanita bisu. Tampilan bakmi goreng ini sekilas hampir sama dengan bakmi di tempat lain, hanya saja warnanya lebih terang sedikit mungkin karena tidak terlalu banyak menggunakan kecap. Bakmi ini terbuat dari dua jenis mi, yakni mi kuning dan bihun. Kemudian dilengkapi dengan potongan-potongan kecil daging ayam dan seledri. Suapan pertama ketika mencoba bakmi bisu ini membuat saya hampir kehilangan kata. Bumbu yang menyelimuti bakmi ini amat terasa tebal dan meresap ke dalam mi. Sekilas rasa mi ini seperti agak berlebihan bumbu, namun itu semua hilang ketika disusul oleh suapan-suapan selanjutnya.
Di meja penyajian juga disediakan cabe rawit yang sangat nikmat jika diceplus berbarengan dengan mi. Hal yang tidak terlupakan dari makan di bakmi bisu ini adalah ketika setelah selesai makan mi dilanjutkan dengan teh panas wasgitel. Dua hal ini-mi dan teh- seakan saling melengkapi dengan kelebihannya masing-masing untuk menjadikan pengalaman wisata kuliner yang sulit dilupakan bagi anda. Pada akhirnya, saya cukup senang karena dua tebakan saya di awal tulisan ada yang benar. Bakmi Shibishu membuat saya kehilangan kata dan membisu untuk sesaat karena kelezatannya. (nang)
SUMBER: Copyright © 2008 YogYES.COM



Lumpia, 'Sosis' Aneka Isi dengan Saus Bawang Putih
Lumpia boleh jadi tersebar luas di Pulau Jawa, namun kelezatan lumpia tiada dua tentu tak bisa dinikmati di sembarang tempat. Yogyakarta menjadi tempat yang paling tepat untuk berburu dan mencicipi kelezatan beragam jenis lumpia. Di kota inilah, lumpia tumbuh mulai dari jajanan yang dijual menggunakan bakul ke pasar-pasar pada tahun 1940-an hingga makanan prestisious yang menembus swalayan modern.
Sejarah penamaan lumpia memang hingga kini belum jelas, namun kelezatan rasanya telah diakui oleh banyak orang. Lumpia terdiri dari kulit yang berbahan campuran terigu dan telur yang didadar. Kulit tersebut kemudian dipakai untuk membungkus isi yang biasanya bervariasi antara satu produsen dengan produsen lain. Isi yang telah dibungkus dengan adonan kulit kemudian digoreng dalam wajan dengan api sedang untuk menghasilkan pemasakan yang sempurna.
Ada dua jenis lumpia yang bisa dicicipi di Yogyakarta, yaitu lumpia dengan kulit garing serta lumpia dengan kulit basah. Lumpia yang kulitnya garing akan menyapa lidah dengan sensasi kerenyahan, sementara lumpia berkulit basah akan terasa lembut dan gurih di lidah. Tak ada salah satu yang lebih nikmat karena keduanya memiliki kekhasan tersendiri yang dihasilkan dari komposisi bahan baku dan proses pemasakan yang berbeda, semua mesti dicoba.
Citarasa kulit yang gurih akan berpadu dengan paduan rasa asin, manis dan asam adonan isi. Bercampur sempurna di lidah dan menghasilkan sensasi rasa nikmat yang akan menyapa sejak gigitan pertama. Lumpia yang asli berisi irisan rebung yang dimasak dengan bumbu khusus dengan rasa yang cenderung manis. Beberapa produsen menambah bahan lain untuk isi, misalnya berupa wortel, agar semakin kaya citarasanya.
Ada pula lumpia berisi ayam yang dimasak dengan bumbu khusus, terdiri dari campuran bawang merah, bawang putih, gula merah, dan bumbu lainnya. Ayam berbumbu direbus hingga lunak dan ditumbuk halus, membentuk adonan seperti bubuk yang berwarna coklat.
Isi yang kaya citarasa dan kulit lumpia yang gurih biasanya dinikmati bersama dua macam saus, yaitu saus bawang dan saus semarangan. Saus bawang dibuat dari bawang putih yang dihaluskan dan dimasak bersama air hingga kental, sementara saus semarangan dibuat dari bermacam bumbu jawa, berwarna coklat dan lebih kental. Sebagai penyegar, dua macam saus itu dilengkapi dengan acar, terbuat dari mentimun yang diberi cuka.
Lumpia beserta piranti penyedapnya biasanya dihidangkan pada cawan. Cara makanannya, saus bawang putih diambil menggunakan garpu dan ditusuk-tusukkan pada lumpia sehingga menyatu bersama isi. Sementara, saus semarangan dituangkan di permukaan kulit lumpia, begitu pula dengan acar mentimun yang dilengkapi cabe rawit. Setelah itu, lumpia diiris menggunakan pisau, dan akhirnya lumpia pun siap dinikmati.
Sejumlah tempat yang tepat untuk menikmati kelezatan lumpia khas Yogyakarta antara lain Pasar Beringharjo, depan Toko Samijaya di Jalan Malioboro dan Trubus Restaurant & Bakery di dekat Pasar Kranggan. Pasar Beringharjo menyediakan beragam macam isi, sementara kios lumpia depan Toko Samijaya menyuguhkan lumpia berisi rebung. Trubus Restaurant & Bakery yang kelezatannya mengalahkan lumpia Semarang menyediakan lumpia dengan isi campuran sayuran dan rebung yang disajikan dalam keadaan masih hangat.
Satu lumpia dijual dengan harga bervariasi. Lumpia di Pasar Beringharjo dijual dengan harga sekitar Rp 1.500,00 hingga Rp 2.000,00. Lumpia di kios di depan Samijaya dijual dengan harga rata-rata Rp 4.000,00, sedangkan di Trubus Restaurant & Bakery dijual dengan harga Rp 3.000,00 untuk yang biasa dan Rp 4.500,00 untuk yang istimewa. Semuanya bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang.
SUMBER:Naskah: Yunanto Wiji UtomoPhoto & Artistik: Agung Sulistiono MabruronCopyright © 2007 YogYES.COM